Sabtu, 28 April 2012

CONTEKSTUAL TEACHING AND LEARNING


MAKALAH
CONTEKSTUAL TEACHING AND LEARNING
Aris Setiawan      NPM 10.0401.0003
Suci Ana Koniah NPM 10.0401.0014

I.                   Pendahuluan

            Di zaman modern ini dimana teknologi semakin canggih dan maju, menyebabkan banyak terjadi perubahan dan perkembangan dalam segala aspek. Dunia pendidikan pun tak luput terkena dampak dari perkembangan. Saat ini banyak sekali lembaga pendidikan yang menawarkan model dan methode pendidikan yang beragam. Upaya peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia tidak pernah berhenti. Berbagai terobosan baru terus dilakukan oleh pemerintah melalui Depdiknas. Upaya itu antara lain dalam pengelolaan sekolah, peningkatan sumber daya tenaga pendidikan, pengembangan/penulisan materi ajar, serta pengembangan paradigma baru dengan metodologi pengajaran. Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (Mujahid, 2005:3). Makalah ini akan mencoba memaparkan konsep belajar dengan menggunakan pendekatan CTL (Conteextual Teaching and Learning). Meskipun penyusun  merasa dalam pembuatan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, maka saran dan kritik yang membangun sangat penyusun harapkan.



II.                Pembahasan

A.      Pengertian Contekstual Teaching and Learning
Secara etimologi kata kontekstual (contextual) berasal dari kata context yang berarti hubungan, konteks, suasana dan keadaan. Sedangkan Teaching dan Learning dapat diartikan pembelajaran dan pengajaran. dapat diartikan sebagai suatu pembelajaran yang berhubungan dengan suasana tertentu. Secara umum contextual mengandung arti : Yang berkenan, relevan, ada hubungan atau kaitan langsung, mengikuti konteks; Yang membawa maksud, makna, dan kepentingan. Adapun secara terminologi adalah proses pembelajaran yang holistik dan bertujuan membantu siswa untuk memahami makna materi ajar dengan mangaitkannya terhadap konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial dan kultural), sehingga siswa memiliki pengetahuan/ketrampilan yang dinamis dan fleksibel untuk mengkonstruksi sendiri secara aktif pemahamannya.
Menurut Kunandar (2010:295) dalam The wagshinton state konsoritium for contextual teaching and learnig mengartikan pembelajaran kontekstual adalah pengajaran yang memungkinkan peserta didik memperkuat, memperluas dan menerapkan keterampilan akademisnya dalam berbagai latar sekolah dan diluar sekolah untuk memecahkan seluruh persoalan yang ada dalam dunia nyata. Pembelajaran kontekstual menjadi ketika peserta didik menerapkan dan mengalami apa yang diajarkan dengan mengacu pada masalah-masalah ril yang berasosiasi dengan peranan dengan tanggung jawab mereka sebagi anggota keluarga, masyarakat, peserta didik dan selaku pekerja.
Dalam kelas kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru (baca: pengetahuan dan keterampilan) datang dari 'menemukan sendiri', bukan dari 'apa kata guru'. Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan kontekstual. Kontekstual hanya sebuah strategi pembelajaran. Seperti halnya strategi pembelajaran yang lain, kontekstual dikembangkan dengan tujuan agar pembelajaran berjalan lebih produktif dan bermakna. Pendekatan kontekstual dapat dijalankan tanpa harus mengubah kurikulum dan tatanan yang ada.
Dengan demikian, yang menjadi konsep dasar dan kerakteristik dari Contextual Teaching and Learning (CTL) ada tiga hal yang kita harus pahami yaitu sebagai berikut:
1.Contextual Teaching and Learning (CTL) menekankan kepada proses ketelibatan peserta didik untuk menemukan  materi, artinya proses belajar diorentasikan pada proses pengalaman secara langsung. Proses belajar dalam Contextual Teaching and Learning (CTL) tidak mengharapkan agar peserta didik hanya menerima pelajaran, akan tetapi proses mancari dan menemukan sendiri materi pelajaran.
2.Contextual Teaching and Learning (CTL) mendorong agar peserta didik dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata, artinya peserta didik dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara  pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting, sebab dengan dapat mengorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata, bukan saja bagi peserta didik materi itu akan bermakna secara fungsional akan tetapi materi yang dipelajarinya akan tertanam erat dalam memori peserta didik, sehingga tidak akan mudah dilupakan.
3.Contextual Teaching and Learning (CTL) mendorong peserta didik untuk dapat menerapkanya dalam kehidupan, artinya Contextual Teaching and Learning (CTL) bukan hanya mengharapkan peserta didik dapat memahami materi yang dipelajarinya, akan tetapi bagaimana materi pelajaran itu dapat mewarnai dalam kehidupan sehari-hari. Materi pelajaran dalam Contextual Teaching and Learning (CTL) bukan untuk ditumpuk di otak dan kemudian dilupakan akan tetapi bekal mereka dalam mengarungi kehidupan nyata.
B.      Asas-asas Contextual Teaching and Learning
Menurut Sanjaya (2009:264-268), Asas-asas yang melandasi pelaksanaan pembelajaran Contextual Teaching and Learning. Seringkala asas ini disebut juga komponen-komponen Contextual Teaching and Learning adalah:
1.     Konstruktivisme
Konstruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Filsafat konstruktivisme yang mulai digagas oleh Mark Baldawin dan dikembangkan dan diperdalam oleh  Jean Piaget menganggap bahwa pengetahuan itu terbentuk bukan dari objek semata, tetapi juga dari kemampuan individu sebagai subjek yang menangkap setiap objek yang diamatinya.
2.   Inkuiri
Inkuiri artinya proses pembelajaran didasarkan pada pencaian dan penemuan melalui proses berfikir sistamatis. Pengetahuan bukanlah sejumlah fakta hasil dari mengingat, akan tetapi hasil dari proses menemukan sendiri. Dengan demikian dalam proses perencanaan, guru bukanlah mempersiapkan sejumlah materi yang harus dihafal, akan tetapi merancang sendiri materi yang harus dipahaminya.
3.   Bertanya (Questioning)
Belajar pada hakikatnya adalah bertanya dan menjawab pertanyaan. Bertanya dapat dipandang sebagai refleksi dari keingin tahuan setiap individu, sedangkan menjawab pertanyaan mencerminkan kemampuan seseorang dalam berfikir. Dalam proses pembeajaran Contextual Teaching and Learning, guru  tidak menyampaikan info begitu saja, akan tetapi memancing siswa dapat menemukan sendiri.
4.   Masyarakat Belajar (Learning Community)
Suatu permasalahan tidak mungkin dapat dipecahkan sendiri, tetapi membutuhkan bantuan orang lain. Konsep masyarakat belajar dalam Contextual Teaching and Learning menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh melalui kerjasama dengan orang lain. Hasil belajar dapat diperoleh dari hasil sharing dengan orang lain, antar teman, antar kelompok, yang sudah tahu memberi tahu kepada yang belum tahu, yang pernah memiliki pengalaman membagi pengalamannya dengan orang lain.
5.   Pemodelan (Modeling)
Asas modeling adalah proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap siswa. Proses modeling tidak terbatas dari guru saja, akan tetapi dapat juga guru memanfaatkan siswa yang dianggap memiliki kemampuan.
6.   Refleksi (Reflection)
Refleksi adalah pengendapan pengalaman yang telah dipelajarai yang dilakukun  dengan cara mengurutkan kembali kejadian-kejadian atau peristiwa pembelajaran yang telah dilaluinya. Dalam proses pembelajaran Contextual Teaching and Learning, setiap berakhir proses pembelajaran, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk “merenung” atau mengingat kembali apa yang telah dipelajarinya. Biarkan secara bebas siswa menafsirkan pengalamannya sendiri, sehingga ia dapat menyimpulkan tentang pengalaman belajarnya.
7.   Penilaian Nyata (Authentic Assessment)
Penilaian nyata adalah proses yang dilakukan guru untuk mengumpulkan informasi tentang perkambangan belajar yang dilakukan untuk mengetahuiapakah siswa benar-benar belajar atau tidak, apakah pengalaman belajar siswa memiliki pengaruh yang positif terhadap perkembangan baik intelektual maupun mental siswa.
            Apabila ketujuh komponen ini diterapkan dalam pembelajaran, maka akan terlihat pada realitas berikut :
1.      Kegiatan yang mengembangkan pemikiran bahwa pembelajaran akan lebih bermakna apabila siswa bekerja sendiri, menemukan, dan membangun sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.
2.      Kegiatan belajar yang mendorong sikap keingintahuan siswa lewat bertanya tentang topik atau permasalahan yang akan dipelajari.
3.      Kegiatan belajar yang bisa mengondisikan siswa untuk mengamati, menyelidiki, menganalis topik atau permasalahan yang dihadapi sehingga ia berhasil “menemukan” sesuatu.
4.      Kegiatan belajar yang bisa menciptakan suasana belajar bersama atau bekerja sama, dan saling membantu dengan teman lain.
5.      Kegiatan belajar yang bisa menunjukkan model yang bisa dipakai rujukan atau panutan siswa dalam bentuk penampilan tokoh, demontrasi kegiatan, penampilan hasil karya, cara mengoprasikan sesuatau, dan sebagainya.
6.      Kegiatan belajar yang memberikan refleksi atau umpan balik dalam bentuk tanya jawab dengan siswa tentang kesulitan yang dihadapi dan pemecahannya, merekontruksi kegiatan yang telah dilakukan, kesan siswa selama melakukan kegiatan, dan saran atau harapan siswa.
7.      Kegiatan belajar yang bisa diamati secara periodik perkembangan kompetensi siswa melalui kegiatan-kegiatan nyata ketika pembelajaran berlangsung.
III.               Peran CTL dalam Kegiatan Belajar Mengajar
Dari penjelasan tentang Contekstual Learning and Teaching (CTL) diatas maka dapat dianalisis  tentang peran CTL dalam kegiatan belajar mengajar sebagai berikut :
Contekstual Teaching and Learning (CTL) memiliki kelebihan-kelebihan diantaranya bahwa Siswa lebih termotivasi karena materi yang disajikan terkait dengan kehidupan sehari-hari. Kemudian materi yang disajikan lebih lama membekas di pikiran siswa karena siswa dilibatkan aktif dalam pembalajaran, dan yang tidak kalah penting bahwa pembelajaran ini siswa berpikir alternatif dalam membuat pemodelan.
Disamping kelebihan-kelebihan tersebut Contekstual Teaching and Learning (CTL) juga memiliki kelemahan yang diantaranya bahwa tidak semua topik atau pokok bahasan bisa disajikan dengan kontekstual, atau kadang kesulitan dalam mengaitkannya.selain itu pembelajaran ini membutuhkan waktu yang agak lama.
Pembelajaran ini menjadikan peserta didik dapat menerapkan keterampilan akademisnya dalam berbagai latar sekolah dan diluar sekolah untuk memecahkan seluruh persoalan yang ada dalam dunia nyata. Selain itu mendorong agar peserta didik dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata.
Contekstual Teaching and Learning (CTL) membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.


IV.              Penutup

A.     Kesimpulan
Contekstual Teaching and Learning adalah sebuah strategi pembelajaran yang mengaitkan materi pelajaran tertentu pada dunia nyata. Dalam pembelajaran ini siswa dituntut untuk dapat membangun pengetahuan dengan sendirinya. Yaitu dengan mengadakan kerja sama (team work) dengan siswa lainnya untuk memecahkan suatu masalah yang ada kaitannya dengan materi yang dipelajari.
Dalam pembelajaran (CTL) guru berfungsi sebagai fasilitator. Guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru hanya mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas.


DAFTAR PUSTAKA
-Hanafi, M. 2009. Pembelajaran Sejarah Kebudayaaan Islam. Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Islam Departemen Agama Republik Indonesia
-Kunandar. (2005). The Washington State Konsoritium for Contextual Teaching and Learning. [online]. Tersedia: http://www.surgamakalah.com/2011/07/konsep-model-pembelajaran-contextual.html [7 Maret 2012]
-Muslich Masnur. (2008). KTSP Pembelaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual. Jakarta: Bumi Aksara
-Mujahid Imam. (2005). Contekstual Teaching and Learning. [online]. Tersedia:http://uanghipni.blogspot.com/2010/10/pengertian-contextual-teaching-and.html [7 Maret 2012]
-Sanjaya. (2009) . Contekstual Teaching and Learning. [online].Tersedia:http://alkustadotcom.wordpress.com/2011/02/06/contextual-teaching-and-learning/[7 Maret 2012]

1 komentar: