Sabtu, 28 April 2012

PENDIDIKAN DALAM MILLENNIUM DEVELOPMENT GOALS (MDGs)


PENDIDIKAN DALAM MILLENNIUM DEVELOPMENT GOALS (MDGs)
Oleh:
Iin Marlina                             10.0401.0028
Magfiroh                                10.0401.0073

  1. Pendahuluan
MDGs merupakan singkatan dari Millenium Development Goals. MDGs dicetuskan pada bulan september tahun 2000 oleh para pemimpin dunia di New York. Pertemuan para pemimpin dunia tersebut dinamai dengan “Deklarasi Millennium”. Deklarasi Millennium ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang kondusif  bagi pembangunan sumber daya manusia dan pengentasan kemiskinan. Dalam rangka mewujudkan tujuan itu, maka dirumuskan delapan tujuan Pembangunan Millennium yang disebut Millennium Delevepment Goals.
MDGs mempunyai delapan tujuan dan antara tujuan saling keterkaitan. Selain itu, setiap tujuan terkandung beberapa target-target yang spesifik dan terukur. Setiap target mempunyai beberapa indikator yang dapat mengukur seberapa besar keberhasilan dari beberapa tujuan tersebut. Dari delapan tujuan dari MDGs, target yang telah ditentukan harus tercapai/terpenuhi pada tahun 2015 dengan patokan data tahun 1990.
Salah satu tujuan dari MDGs adalah pendidikan dasar untuk semua. Dengan pendidikan diharapkan pembangunan sumber daya manusia dapat terealisasi. Buruknya kualitas pendidikan menunjukkan buruknya kualitas suatu negara begitu juga sebaliknya. Oleh karena itu, masalah pendidikan mendapat perhatian khusus dari semua pihak.    
   
  1. Millennium Development Goals
A.        Gambaran Umum MDGs
Millennium Development Goals (MDGs) memiliki delapan tujuan yang dianggap masalah pokok dalam pembangunan sumber daya manusia. Delapan tujuan tersebut adalah:
1.    Memberantas kemiskinan dan kelaparan ekstrim
Pemberantasan kemiskinan dan kelaparan ekstrim merupakan salah satu dari tujuan MDGs. Hal ini disebabkan karena dua kondisi tersebut dapat menghambat kemajuan sumber daya manusia. Kita tidak bisa menampik bahwa kita hidup butuh uang. Ketika kita mempunyai uang yang cukup maka kita dapat memanfaatkan uang tersebut untuk membeli kebutuhan pokok. Jika kebutuhan pokok tersebut dipenuhi maka kita dapat hidup dengan nyaman.
Tujuan pertama MDGs (Stalker, 2008) memiliki beberapa target
a)        Menurunkan proporsi penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan menjadi setengahnya antara 1990-2015 diantaranya, berdasarkan angka kemiskinan tahun 1990 yaitu 15,8% maka pencapaian target pada tahun 2015 angka kemiskinan menunjukan 7,5%.
b)        Menyediakan seutuhnya pekerjaan yang produktif dan layak, terutama untuk perempuan dan kaum muda.
Indikator pencapaian target tersebut yaitu:
1)   Pertumbuhan PDB per proposisi jumlah pekerjaan/produktivitas pekerja.
2)   Rasio pekerja terhadap populasi.
3)   Proposisi pekerja yang hidup dan kurang dari $ 1 per hari.
4)   Proposisi pekerja yang memiliki rekening pribadi dan anggota keluarga bekerja terhadap jumlah pekerja total.
c) Menurunnya proposisi penduduk yang menderita kelaparan  menjadi setengahnya antara tahun 1990 dan 2015.
2.    Mewujudkan Pendidikan Dasar untuk semua
Kualitas sumber daya manusia akan meningkat/membaik jika mereka mengenyam pendidikan, paling tidak mengenyam pendidikan dasar yaitu pendidikan wajib 9 tahun. Target dari tujuan kedua MDGs (Stalker, 2008) adalah memastikan bahwa pada tahun 2015 semua anak di manapun, baik laki-laki maupun perempuan, akan bisa menyelesaikan pendidikan dasar secara utuh. Indikator keberhasilan ditentukan berdasarkan tingkat partisipasi di sekolah dasar, kelulusan, dan angka melek huruf.
3.    Mendorong Kesetaran Gender dan Pemberdayaan Perempuan
Masalah kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan  sedang digalangkan. Posisi perempuan menjadi pusat perhatian. Pemberdayaan perempuan di segala lini kehidupan sangat diharapkan. Kita ketahui bahwa perempuan adalah tiangnya negara. Karena ditangan perempuan, generasi bangsa ini dilahirkan dan dididik. Target yang ditentukan oleh tujuan ketiga MDGs (Stalker, 2008) yaitu menghilangkan ketimpangan gender ditingkat pendidikan dasar dan lanjutan, lebik baik pada tahun 2005, dan di semua jenjang pendidikan paling lambat tahun 2015. Indikator keberhasilan ditentukan berdasarkan:
a)        Rasio anak perempuan terhadap anak laki-laki di pendidikan dasar, lanjutan, dan tinggi.
b)        Rasio melek huruf anak perempuan terhadap anak laki-laki usia 15-24 tahun.
c)        Sumbngan anak perempuan dalam berupah dalam sektor non pertanian.
d)       Proporsi perempuan di dalam perlemen.
4.    Menurunkan angka kematian anak
Angka kematian anak masih cukup tinggi. Hal ini disebabkan faktor ekonomi dan faktor pendidikan. Tujuan keempat dari MGDs ini melalui target (Stalker, 2008), diantaranya menentukan angka kematian bahkan sebesar dua pertiganya antra tahun 1990 dan 2005. Indikator keberhasilan target tersebut adalah:
a)        Angka kematian anak dibawah lima tahun.
b)        Proporsi anak usia satu tahun yang mendapatkan imunisasi campak.
5.    Meningkatkan kesehatan ibu
Perjuangan ibu yang paling besar saat melahirkan. Nyawa seorang ibu bisa  jadi taruhanya. Untuk itu kesehatan ibu perlu diperhatikan. Target dari tujuan kelima MDGs (Stalker, 2008) adalah:
a)        Menurunkan angka kematian ibu sebesar tiga perempatnya antara tahun 1990 dan 2005. Indikator  target ini berdasarkan proporsi persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan reproduksi.
b)        Menyiapkan dan menyediakan akses kesehatan reproduksi untuk semua pada tahun 2015. Indikator target ini tingkat penggunaan alat kontrasepsi oleh wanita usia 15-49 tahun dan tingkat perawatan anternal.
6.    Memerangi HIV dan AIDS, malaria, serta penyakit lainnya
Target dari tujuan keenam MDGs (Stalker, 2008) adalah:
a)        Menghentikan dan mulai membalikkan tren penyebaran HIV dan AIDS pada tahun 2015.
b)        Tersedianya akses universal untuk perawatan terhadap HIV/AIDS bagi yang memerlukan pada tahun 2010.
c)        Menghentikan dan mulai membalikkan kecenderunagn penyebaran malaria dan penyakit-penyakit lainya pada tahun 2015.
7.    Memastikan kelestarian lingkungan
Lingkungan dapat mengakibatkan bencana bagi manusia ketika tidak dilestarikan. Oleh karena itu, pembangunan sumber daya manusia perlu adanya pelestarian lingkungan secara berkesinambungan. Target dari tujuan ketujuh MDGs (Stalker, 2008) adalah:
a)        Memadukan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan kedalam kebijaksanaan dan program negara serta mengakhiri kerusakan sumber daya alam.
1)   Proporsi lahan berupa tutupan hutan.
2)   Rasio kawasan lindung untuk mempertahankan keragaman hayati.
b)        Mengurangi laju hilangnya beragam hayati dan mencapai pengurangan yang signifikan pada tahun 2010.
c)        Menurunkan separuh proporsi penduduk yang tidak memiliki akses yang berkelanjutan terhadap air minum yang aman dan sanitasi dasar pada tahun 2015.
d)       Pada tahun 2010 telah mencapai perubahan signifikan dalam kehidupan (setidaknya) 100 juta penghuni kawasan kumuh.
8.    Mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan
Tujuan akhir ini terkait dengan kerjasama Internasional yaitu menelaah beberapa asumsi, diantaranya perdagangan, bantuan, utang Internasional dan lain-lain. Target dan indikator tujuan akhir ini bertujuan untuk negara-negara maju. Hal ini dikarenakan negara-negara maju agar membantu negara-negara termiskin dalam mencapai tujuan-tujuan MDGS lainnya. Salah satu target  yang menjadi bagian tujuan ke-8 MDGs adalah lebih jauh mengembangkan sistem perdagangan dan keuangan yang terbuka, berbasis peraturan, mudah diperkirakan, dan tidak diskriminatif.
B.     MDGs dalam Perspektif Pendidikan
Kualitas suatu bangsa dapat  ditentukan oleh kualitas pendidikannya. Semakin baik kualitas pendidikan  maka semakin baik kualitas bangsa itu. Sebaliknya semakin buruk kualitas pendidikan maka semakin buruk kualitas bangsa itu. Dari tahun ke tahun Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia semakin menurun. Kondisi ini sangat memprihatinkan kita semua. Kita ketahui bahwa pendidikan di Indonesia belum bisa merata di beberapa daerah. Selain itu, fasilitas pendidikan di sekolah mulai dari tingkat dasar sampai tingkat ataspun sangat miskin baik infrastruktur maupun suprastruktur.
Pendidikan adalah masalah krusial dalam kehidupan. Pendidikan dapat memberikan dampak yang sangat besar dalam kehidupan manusia. Oleh sebab itu, tidaklah salah jika pendidikan merupakan salah satu tujuan Pembangunan Milennium (MDGs). Selain maslah pendidikan, ada tujuh masalah yang diangkat dalam MDGs. Ketujuh masalah tersebut adalah 1) kemiskinan dan kelaparan, 2) kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, 3) kematian bayi, 4) kesehatan ibu, 5) penyakit menular, 6) pelestarian lingkungan, dan 7) kemitraan untuk pembangunan.
Pendidikan di Indonesia saat ini masih mementingkan pendidikan yang bersifat dan berideologi materalisme-kapitalisme. Ideologi pendidikan ini jika dilihat secara teoritis tidak nampak, tetapi secara praktis merupakan realitas yang tidak dapat dibantah lagi. Oleh karena itu, pendidikan dasar untuk semua merupakan tujuan pembangunan millennium yang diharapkan dapat terealisasi. Tidaklah mudah untuk mewujudkan pendidikan dasar untuk semua. Banyak anggapan masyarakat yang menjebak mereka sehingga mereka enggan bersekolah. Salah satunya, masyarakat sering berpandangan bahwa sekolah yang mahal dengan menyediakan fasilitas modern adalah sekolah bermutu dan menjamin masa depan anak-anaknya. Banyak masyarakat yang kurang mampu terjebak dengan definisi tersebut. Mereka juga merasa minder jika menyolahkan anak-anaknya di sekolah-seklah bagi kaum “the have”. Selain tidak mampu untuk membiayai sekolah ank-anaknya, orang tua yang kurang mampu masih enggan untuk memasukkan ke sekolah bermutu tersebut. Hal ini disebabkan karena mereka takut dengan pergaulan sehari-hari yang mengakibatkan anak mereka dianiaya, diejek, atau terpengaruh dengan perilaku yang kurang baik. Gambaran ini merupakan dikotomi pendidikan bagi anak kaya dan anak miskin
Pemerintahpun tidak tinggal diam. Pemerintah memberikan dana BOS untuk pendidkan sekolah dasar di seluruh negeri ini. Akan tetapi, dana BOS prakteknya banyak di selewengkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Seharusnya dalam penggunaan dana BOS harus berorientasi pada efisien, efektifitas, transparansi dan akuntabilitas (Benni Setiawan, 2008: 98). Dalam hal ini, partisipai semua pihak demi mengawasi pengunaan dana BOS mutlak diperlukan.
Sebenarnya, dana BOS tersebut sangat membantu keluarga miskin untuk dapat mengenyam pendidikan dasar. Karena terjadi penyelewengan di sana-sini sehingga sekolah masih banyak yang memungut biaya yang lumayan mahal. Bagi orang miskin, salah satu akibatnya mereka memilih putus sekolah. Faktor kemiskinan merupakan salah satu penghambat untuk mewujudkan pendidikan dasar untuk semua. Untuk memberikan jalan keluar agar generasi muda memiliki penghasilan yang lebih baik di masa mendatang, maka kunci utamanya adalah memberikan pendidikan yang lebih baik kepada mereka serta diiringi kebijakan pemerintah yang mempertimbangkan dan memastikan tombulnya ekonomi yang bermanfaat pada daerah dan  penduduk termiskin. Pemerintah harus memberikan perhatian lebih pada kawasan pedesaan, karena sektor dua pertiga dari rumah tanga miskin bekerja di sektor pertanian. Jika penghasilan orang tuanya yang bekerja di sektor pertanian tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari, maka dapat dibayangkan bahwa anak-anaknya pasti tidak memperolah kesempatan untuk melanjutkan studinya ke jenjang sekolah yang sesuai dengan usianya. Sebab tenaga anak dimanfaatkan oleh orang tuannya untuk membantu orang tuanya bekerja mencari nafkah.
1.        Hubungan Pendidikan dengan Gender
Kesetaraan gender dalam dunia pendidikan juga sangat diperlukan. Berbicara tentang kesetaraan gender, maka perempuan yang menjadi masalah dominan. Perempuan berhak untuk mendapatkan pendidikan. Kita coba melihat persoalan-persoalan baru di abad kedua puluh ini yang terjadi terhadap perempuan. Perdagangan manusia yang banyak didominasi perempuan menjadi bahasan yang menarik dan menjadi perhatian dunia. Perempuan sering menjadi santapan ampuh mucikari untuk menjual mereka. Mereka dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga hingga sebagai pemuas nafsu laki-laki hidung belang. Jual beli perempuan sering dilatar belakangi oleh faktor kemiskinan dan pengangguran. Dua faktor ini selalu berkaitan dengan persoalan pendidikan yang tidak memadai. Contohnya para TKI/TKW di luar negeri. Persoalan jual beli perempuan tentunya sangat dekat hubungannya dengan akses pendidikan. Maksudnya, pendidikan bagi kaum perempuan masih dianggap tabu oleh sebagian masyarakat. Masyarakat memandang bahwa perempuan tugasnya hanya di dapur. Pandangan ini seakan lebih menjadi rumus baku dalam masyarakat. Keadaan itu sering menjadi faktor mengapa perempuan menjadi bodoh dan tidak berdaya. Mereka tidak mempunyai keahlian dan ketrampilan yang dapat dijadikan andalan dalam menghadapi dunia kerja dan hidup. Oleh karena itu, agenda pendidikan bagi perempuan sudah saatnya digalakkan. Pendidikan bagi kaum perempuan dapat diwujudkan dengan mendorong masyarakat untuk terbuka. Artinya, pandangan masyarakat mengenai lemahnya kaum perempuan dalam peran serta membangun bangsa sudah saatnya diakhiri. Yaitu dengan memberikan pengarahan dan pendidikan bagi masyarakat. Program pendidikan dapat dilakukan dengan cara, memberikan dan mendorong kaum perempuan untuk menikmati pendidikan lanjutan, melalui peranan organisasi sosial keagamaan, melalui peranan serta lembaga pemerintah dari tingkat desa hingga perkotaan dan kepedulian LSM.
2.     Hubungan Pendidikan dengan Pelestarian lingkungan
Pendidikan di Indonesia harus menciptakan pendidikan ramah lingkungan. Hal ini disebabkan negara Indonesia merupakan penyumbang ketiga emisi gas rumah kaca terbesar di dunia. Emisi ini disumbangkan oleh sector kehutanan, terutama akibat penebangan liar, pembersihan lahan, konversi hutan menjadi lahan pertanian atau perkebunan dan kebakaran hutan. Kita harus mengambil langkah untuk mengatasi itu semua. Menyelamatkan hutan dan lingkungan alam dari kerusakan merupakan amanah kemanusiaan (Benni Setiawan, 2008: 44). Hal ini disebabkan karena manusia dan makhluk lainnya mendiami bumi sebagai tempat tinggal serta mempertahankan hidup dan beranak pinak. Jika bumi rusak, makhluk bumipun juga akan punah. Maka dari itu memelihara bumi agar tetap lestari dan menjadi tempat yang nyaman untuk makhluk bumi adalah bukti cinta kasih terhadap sesama. Manusia sudah saatnya memikirkan bagaimana menyelamatkan bumi dari kerusakan. Kerusakan bumi pada dasarnya awal dari kepunahan manusia. Untuk menyelamatkan bumi dari kepunahan, salah satu dengan mengagendakan pendidikan ramah lingkungan. Pendidikan ramah lingkunagan pada dasarnya lebih pada sejarah konsep hidup sinergis antara manusia dengan alam. Pendidikan ramah lingkungan harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Langkah pertama dengan menyadarkan manusia itu tidak bisa hidup tanpa alam. Langkah kedua, di dalam pendidikan formal peserta didik diajarkan bagaimana menghargai keseimbangan makrokosmos bumi yaitu dengan mengintegrasikan setiap pelajaran dengan misi pelestarian lingkungan. Langkah ketiga, aksi nyata manusia untuk tidak merusak ekosisitem bumi.
3.        Hubungan Pendidikan dengan Kematian Bayi
Angka kematian bayi (anak) di Indonesia cukup tinggi. Faktor kemiskinan dan pendidikan sangat berperan dalam hal ini. Pendidikan mengambil adil dalam angka kematian bayi. Hal ini dapat dilihat, bahwa kepedulian masyarkat akan lima imunisasi sangat kurang (BCG, DPT, Polo, Campak, Hepatitis B). Selain itu, kelahiran seorang anak di beberapa daerah masih mengandalkan dukun bayi. Mereka belum mempunyai kesadaran agar kelahiran ditolong oleh tenaga medis. Semakin tinggi pendidikan masyarakat maka angka kematian bayi semakin berkurang. Kemiskinan juga mengambil adil dalam angka kematian bayi. Karena miskin orang tua akan memberikan asupan gizi yang sangat minim. Hal ini dapat  menyebabkan terjadinya penyakit. Jika penyakit tersebut dibiarkan begitu saja oleh orang tua dan tidak dibawa ke puskesmas atau rumah sakit maka, kematianlah yang terjadi. Hal itu terjadi karena mereka tidak memiliki uang. Untuk makan sehari-hari saja susah apalagi harus membiayai anak di rumah sakit. Banyak upaya untuk menekan angka kematian bayi. Pertama, pemerintah mengadakan jamkesmas untuk keluarga miskin dan tidak mampu. Kedua, melalui posyandu diadakan penyuluhan tentang kesehatan. Ketiga melalui pendidikan formal yaitu pelajaran ilmu pengetahuan alam. Siswa menyadari bahwa suatu saat nanti mereka akan menjadi orang tua maka dari itu pengetahuan kesehatan sejak dini sangatlah bermanfaat.  
4.        Hubungan Pendidikan dengan kesehatan Ibu
Wanita adalah tiangnya negara. Jika wanita itu kokoh maka kekokohan negara terjamin begitu juga sebaliknya. Dalam hal ini wanita harus dibekali oleh pendidikan yang cukup ditangan  merekalah, generasi bangsa ini dilahirkan dan dididik dengan penuh kasih sayang. Hal ini dibuktikan dengan perjuangan terbesar seorang ibu yaitu ketika melahirkan anak yang dikandungnya selama 9 bulan 10 hari. Begitu pula ketika proses melahirkan anak yang dikandungnya. Namun, karena minimnya pendidikan dan pengetahuan sang ibu tentang aman serta proses persalinan yang benar kadang ibu melahirkan hanya dengan bantuan dukun beranak saja (secara tradisional). Untuk kasus-kasus persalinan normal itu tidak begitu bermasalah. Akan tetapi apabila terjadi komplikasi, persalinan tradisional tidak mungkin bisa mengatasi dan enggan meminta bantuan bidan desa. Hal ini dapat mengakibatkan penundaan yang membahayakan jiwa. Karena tidak secepatnya memperoleh perawatan kebidanan darurat dari rumah sakit. Bisa saja nyawa sang ibu melayang.
Pendidikan ikut ambil andil dalam upaya penekanan angka kematian ibu. Dengan pendidikan yang cukup sejak dini dapat menekan angka kematian ibu. Oleh karena itu, mari galangkan pendidikan untuk semua.
5.        Hubungan Pendidikan dengan Penyakit menular
Dewasa ini begitu banyak bermunculan berbagai macam penyakit baik menular maupun tidak. Penyakit tersebut diantaranya HIV/AIDS, malaria, dan lain-lain. Supaya kita tidak kena penyakit tersebut, maka kita harus mengetahui tentang penyakit tersebut. Diantaranya:
a)     Penyebab penyakitnya
b)    Penularan penyakit
c)     Pencegahannya
Pendidikan kesehatan sangat diperlukan dan dapat diperoleh melalui posyandu, penyuluhan oleh medis setempat. Peranan UKS dalam pendidikan formal dapat mencegah wabah  penyakit tersebut. Pemberdayaan UKS sangat berperan dalam melawan penyebaran  penyakit tersebut. UKS yang kita ketahui hanya sebagai P3K tetapi UKS diupayakan secara kontinyu selalu memberikan pelayanan/penyuluhan terhadap anak tentang isu-isu terhangat seputar kesehatan khususnya penyakit menular.
6.        Hubungan Pendidikan dengan Kemitraan Global untuk Pembangunan
Kemitraan sangat diperlukan di Era Globalisasi ini. Bentuk kementerian dalam dunia pendidikan dengan negara lain diantaranya pertukaran pelajar dan pertukaran guru. Dengan bentuk kemitaraan tersebut diharapkan mempererat hubungan persaudaraan antar negara.  

  1. Kesimpulan
Masalah pendidikan tidak henti-hentinya diperbincangkan sampai-sampai menjadi salah satu Pembangunan Millenium (MDGs).  Pendidikan sebagai suatu proses pembentukan pribadi peserta didik dilaksanakan secara sistematik dan sistematis. Sebab sebuah proses pendidikan berlangsung secara bertahap serta berkesinambungan (prosedural) dan sistematik karena berlangsung dalam situasi dan kondisi di semua lingkungan baik keluarga, sekolah, dan masyarakat. Oleh karena itu, tantangan yang harus dikerjakan dalam bidang pendidikan harus diupayakan terutama meningkatkan rendahnya mutu pendidikan di Indonesia pada setiap jenjang dan satuan pendidikan, khususnya pendidikan dasar dan menengah serta mendorong masyarakat untuk menyadari sepenuhnya bahwa pendidikan adalah kebutuhan mendasar bagi setiap hidup insani. Jika hal ini berhasil, maka pemerintah melalui kebijakan presiden secara bertahap akan dapat menuntaskan pendidikan untuk semua.

Daftar Pustaka

Setiawan, Benni. 2008. Agenda Pendidikan Nasional. Jogjakarya: Ar-ruz Media Group.
Stalker, P.  2008. Millennium Development Goals. [On line]. Tersedia: http://www.undp.or.id/pubs/docs/Let%20Speak%20Out%20for%20MDGs%20-%20ID.pdf [13 Maret 2012]
Hudha, AM. 2010. Mewujudkan MDGs Pendidikan untuk Kemajuan Pendidikan Masa Datang. [On line]. Tersedia: http://ejournal.umm.ac.id. [13 Maret 2012]
Nurullah, Ahmad. 2012. Tantangan 2012 menuju MDGs. [On line]. Tersedia: http: ///J: Pendidikan MDGs.htm. [13 Maret 2012]
Devanda, Berry. 2010. Pendidikan Dasar Sembilan Tahun dan Target MDGs. [On line].Tersedia:http://www.pkvhi.org/index.php?option=com_content&view=article&id=186:pendidikan-dasar-sembilan-tahun-dan-target-mdgs-&catid=43:kliping-artikel&Itemid=55. [13 Maret 2012]





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar