Sabtu, 28 April 2012

PENDIDIKAN BERBASIS KEARIFAN LOKAL


PENDIDIKAN BERBASIS KEARIFAN LOKAL

Oleh :
-         Supoyo                  : 10.0401.0009
-         Endah Fitriana        : 10.0401.0055

A.     Pendahuluan
Seiring dengan kebutuhan masyarakat dalam upaya memenuhi kebutuhan hidup, maka pendidikan akan terus tumbuh dan berkembang. Pendidikan di fungsikan sebgai fasilitator untuk memberikan pemahahaman dasar kepada manusia agar dapat berlaku produktif dalam mengelola lingkungan sekitar. Pendidikan hendaknya didorong ke arah yang lebih produktif yaitu untuk mencipta sesuatu agar dapat menstimulus manusia agar bisa kreatif dan produktif terutama dalam pemenuhan kebutuhan hidup baik itu yang bersifat fisik maupun non fisik.
 Pendidikan adalah sebagai upaya sadar manusia dalam memahami diri sendiri dan lingkunganya atau upaya manusia dalam memahami interaksi antara makro dan mikro kosmos. Oleh sebab itu pendidikan harus mampu memupuk dan menumbuhkan kesadaran akan arti keberadaan manusia untuk lingkungan dan alam sekitar. Dewasa ini arus penetrasi kebudayaan yang datang dari Barat semakin gencar mewarnai sistem kehidupan sosiokultural masyarakat Indonesia. Di perparah lagi dengan adanya kecenderungan sebahagian generasi muda bangsa ini berkiblat kepada kepada kebudayaan tersebut. Keadaan akan tampak semakin konkrit ketika kita mencoba melihat fenomena yang ada seperti maraknya pergaulan bebas, kasus narkoba dan sebagainya.
Di tengah pusaran pengaruh hegemoni global tersebut, fenomena yang terjadi juga telah membuat lembaga pendidikan serasa kehilangan ruang gerak. Selain itu juga membuat semakin menipisnya pemahaman peserta didik tentang sejarah lokal serta tradisi budaya yang ada dalam masyarakat. Oleh karena itu maka alangkah lebih baiknya jika diupayakan bagaimana caranya agar aneka ragam  budaya yang telah kita miliki tersebut bisa kita jaga dan kita lestarikan bersama.
Dengan pendidikan yang berbasis pada local wisdom (kearifan lokal) maka kita bisa optimis akan terciptanya pendidikan yang mampu memberi makna bagi kehidupan manusia Indonesia. Artinya pendidikan kemudian akan mampu menjadi spirit yang bisa mewarnai dinamika manusia Indonesia kedepan. Pendidikan nasional kita harus mampu membentuk manusia yang berintegritas tinggi dan berkarakter sehingga mampu melahirkan anak- anak bangsa yang hebat dan bermartabat sesuai dengan spirit pendidikan yaitu memanusiakan manusia.

B.     Pembahasan
Pendidikan bebasis kearifan lokal adalah pendidikan yang lebih didasarkan kepada pengayaan nilai- nilai cultural. Pendidikan ini mengajarkan peserta didik untuk selalu dekat dengan situasi konkrit yang mereka hadapi sehari-hari. Dengan kata lain model pendidikan ini  mengajak kepada kita semua untuk selalu dekat dan menjaga keadaan sekitar yang bersifat nilai yang berada di dalam lokal masayarakat tersebut. Model pendidikan ini bisa diidentifikasi dengan beberapa hal sebagai berikut:
1.      Gagasan dan dasar hukum yang melindungi
Gagasan tentang pendidikan berbasis kearifan lokal ini berawal dari sebuah ungkapan yang disampaikan oleh Jhon Naisbit (1990) yang kemudian direspon dan dikembangkan oleh sebagian para pakar sosial dengan ungkapan “thinks globaly acts localy” (berpikir global dan bertindak lokal). Maksud dari ungkapan tersebut adalah, seseorang bisa mengambil pengalaman dan pengetahuan apapun, dari suku manapun dan bangsa manapun, akan tetapi dalam pengaplikasiannya dalam sebuah tindakan ketika seseorang berada di dalam suatu tempat, maka ia harus menyesuaikan dengan nilai dan budaya yang ada di tempat tersebut.
Dengan adanya pengetahuan yang bersifat global, seseorang akan dapat dengan mudah membaca dan mengenali suatu masalah dan memecahkannya. Maka dari itu seseorang perlu untuk berpengetahuan banyak agar wawasan menjadi relatif luas. Akan tetapi dalam hal pendidikan pada umumnya dan belajar mengajar khususnya, seorang pendidik tidak cukup hanya dengan berpengetahuan banyak dan berwawasan luas, akan tetapi untuk merefleksikan transfer of knolage (proses pembelajaran) tersebut juga harus disertai dengan emotion skill (kemampuan emosi) yaitu bagaimana seorang pendidik harus bisa masuk ke dalam dunia di mana anak didik tersebut berada. Dalam masalah ini ada satu hal yang perlu diingat yaitu “seorang anak didik yang datang ke sebuah kelas dalam suatu sekolah tidaklah seperti gelas kososong, akan tetapi mereka sudah membawa pengetahuan dan kebiasaan- kebiasaan dari tempat di mana ia tinggal”. Dengan kata lain bahwa lingkungan yang menjadi tempat tinggal seorang anal didik yang satu, berbeda dengan lingkungan yang menjadi tempat tinggal anak didik yang lain. Dengan begitu sudah barang tentu bahwa status sosial dan ekonomi merekapun pasti berbeda- beda. Begitu juga dalam lokal masyarakat, di dalam sebuah lokal masyarakat yang satu, pasti akan berbeda dengan lokal masyarakat yang lain. Itulah sebabnya kenapa di Indonesia ada semboyan “Bineka Tunggal Ika” yang maksud dari semboyan tersebut adalah walaupun kita berasal dari suku yang berbeda serta budaya yang berbeda pula, akan tetapi kita memiliki satu kesatuan yaitu Indonesia.
Dari kata semboyan yang tersebut di atas bisa disimpulkan bahwa negara Indonesia memang telah mempunyai banyak sekali lokal masyarakat yang tentunya memiliki keanekaragaman budaya yang berbeda- beda pula. Maka dari itu sudah barang tentu bahwa negara Indonesia sebenarnya telah memiliki kekayaan budaya yang pastinya bisa memberi sebuah warna dan corak yang bisa dikembangkan menjadi sebuah karakter bangsa.
Pendidikan bebasis kearifan lokal sebenarnya adalah bentuk refleksi dan realisasi dari Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19/ 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, yaitu pasal 17 ayat 1 yang menjelaskan bahwa ”kurikilum tingkat satuan pendidikan SD- SMA, atau bentuk lain yang sederajat dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, sosial budaya, dan peserta didik”.
2.      Tujuan dan manfaat dari pendidikan yang berbasis pada kearifan lokal
Tujuan dari pendidikan berbasis kearifan lokal ialah sesuai dengan nas yang telah termaktub dalam undang- undang nasional yaitu Undang- undang (UU) No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3, menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Sedangkan manfaat dari pendidikan yang berbasis kepada kearifan lokal antara lain ialah:
a.       Melahirkan generasi- generasi yang kompeten dan bermartabat
b.      Merefleksikan nilai- nilai budaya
c.       Berperan serta dalam membentuk karakter bangsa
d.      Ikut berkontribusi demi terciptanya identitas bangsa
e.       Ikut andil dalam melestarikan budaya bangsa
3.      Arti penting sebuah nilai
Bicara tentang nilai, maka sudah barang tentu tidak bisa lepas dari sebuah kata integritas, yang apabila dibahas lebihlanjut, maka integritas tersebut akan menjadi sebuah identitas. Dalam hal ini, ada sebuah penelitian yang dilakukan di Harvard University Amerika Serikat (Ali Ibrahim Akbar, 2000), yang menyatakan bahwa ternyata kesuksesan seseorang tidak bisa ditentukan semata-mata hanya karena pengaruh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, akan tetapi lebih karena kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, bahwa kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen oleh hard skill dan sisanya yang 80 persen lebih ditentukan oleh soft skill.
Jika diperhatikan, kata ... di di atas bisa disederhanakan dengan ungkapan nilai. Maksud dari nilai tersebut adalah sebuah integritas yangakan menjadi identitas dalam suatu bangsa. Dengan nilai tersebut maka suatu bangsa akan menjadi maju dan bermartabat. Begitu juga yang terjadi di dunia pendidikan. Seorang pengajar, tidak akan pernah bisa lepas dari sebuah kata sederhana yang disebut nilai. Karena dengan nilai tersebut maka seorang pengajar akan memiliki sebuah integritas yang pada akhirnya akan menjadi sebuah identitas, dan dengan identitas tersebut maka seorang pengajar akan memiliki sebuah kekhasan yang akan membedakan dengan para pengajar yang lain. Di sinilah biasanya terdapat suatu kecenderungan yang biasa terjadi di kalangan para pengajar adalah, mereka sering berlomba- lomba dengan metode pengajaran yang dimiliki dan sudah dipelajarinya. Mereka tidak sadar bahwa sebuah integritas tidak bisa disederhanakan hanya dengan sebuah kata metode. Dengan kata lain bisa dikatakan sebagus apapun metode, jika tanpa disertai dengan integritas yang ada di dalam diri pengajar tersebut maka metode tersebut tidak akan menjadi efektif.
Cara yang bisa dilakukan oleh seorang pepelaku pendidikan, baik itu pengajar ataupun peserta didik adalah dengan menggali berbagi potensi nilai yang ada dalam sebuah lokal masyarakat tersebut. Dari situlah maka seorang pelaku pendidikan tersebut akan bisa melakukan perubahan pada dunia pendidikan yang dijalani dan ditekuninya. Hal itu sesuai dengan sebuah istilah yang berasal dari salah seorang intelektual asal Maroko, yaitu Almarhum Muhammad Abed Al-Jabiri yang mengatakan “Attajdidu mina dhdhahl” perubahan harus berangkat dari tradisi kita, maksudnya bahwa perubahan bukan dengan meminjam tradisi orang ataupun bangsa lain.
4.      Pengenalan identitas lingkungan melalui media pembelajaran
Metode yang bisa digunakan untuk pengenalan lingkungan dalam pembelajaran yang berbasis pada kearifan lokal sebenarnya sangatlah vareatif. Untuk siswa SMP- SMA, bagi guru bahasa Indonesia, bahasa Inggris dan bahasa Jawa, dapat menugaskan para siswa untuk membuat karangan tentang potensi wisata kota. Bagi guru seni rupa, anda bisa mengajarkan bagaimana cara menggambar rumah serotongan, limasan dan joglo khas Jawa. Bagi guru matematika, dapat mengenalkan bentuk-bentuk geometris kepada para siswa melalui bentuk atap rumah adat. Metoda lain yang dapat dipraktekkan adalah lewat kegiatan bercerita atau mendongeng, dengan menyertakan gambar, foto, boneka, iringan musik, miniatur rumah adat, atau barang bawaan guru yang menarik. Cara semacam ini sangat efektif untuk mendidik siswa di tingkat Kelompok Bermain, Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar.
5.      Kata- kata bijak yang mengandung motivasi dalam bahasa lokal (Jawa)
Dalam sebuah lokalitas biasanya memiliki banyak sekali kekayaan budaya yang sifatnya khas dan mengandung nilai yang tinggi. Beberapa di antaranya adalah beberapa kata mutiara/ kata- kata bijak yang sedikit- banyak sering dijadikan semboyan dalam aktifitas masyarakat (Jawa) sehari- hari:
a.       Rame ing Gawe Sepi ing Pamrih: Kalimat ini memiliki arti yang mengandung sebuah perintah atau ajakan. Yaitu ajakan agar seseorang senantiasa berbuat baik kepada siapapun, tanpa ada pilih kasih. Setelah berbuat baik seseorang diajak untuk tidak mengharapkan imbalan (pamrih) sedikitpun dari apa yang telah ia perbuat. Dari ungkapan kata tersebut bisa dibayangkan, apa yang akan terjadi di Jawa khususnya jika sebagian besar masyarakatnya bisa memaknai dan mengaplikasikan ungkapan tersebut dalam kehidupan sehari- hari? Pertanyaan berikutnya adalah apa yang akan terjadi di negara Indonesia, jika semua pemimpin dan pejabatnya yang berasal dari suku Jawa bisa memaknai dan mengaplikasikannya dalam aktifitas kepemerintahannya? Dari ungkapan tersebut sekarang bisa terlihat bahwa sebenarnya nilai dari sebuah budaya lokal adalah sesuatu yang hebat.
b.      Ing Ngarsa Sung Tulada, ing Madya Mangun Karsa, Tutwuri Handayani: kalimat ini adalah sebuah ajakan agar seseorang bisa menyesiaikan dengan kondisi dan posisinya masing- masing. Apabila ia menjadi seorang pimpinan maka ia mampu menjadi suri teladan yang baik, apabila ia berposisi menjadi seorang penggerak (mentri/ pejabat tinggi) maka ia mampu memelihara kualitas kinerjanya, dan apabila ia menjadi seorang pejabat/ pegawai/ aparat perintah dan sebagainya maka ia sanggup menjaga dedikasi (memberi kekuatan/ dukungan).
c.       Becik Ketitik Ala Ketara:
Kalimat ini memberi inspirasi kepada siapa saja, bahwa pada akhirnya seseorang akan menuai apa yang telah ditanamnya. Dengan begitu tidak ada alasan bagi seseorang untuk melakukan suatu perbuatan yang buruk, karena pada akhirnya sudah pasti orang tersebut tidak akan bisa mendapatkan kebahagiaan.
Dari tiga ungkapan kata bijak di atas sekiranya cukup untuk menjadikan sedikit gambaran bahwa, betapa luhur potensi nilai yang terkandung dalam lokal masyarakat Indonesia. Dari beberapa gambaran di atas hanyalah sedikit contoh yang diambil dari satu lokal masyarakat yang ada di Indonesia yaitu Jawa, padahal masih banyak lagi suku- suku lain yang ada di Indonesia, yang tentunya dalam tiap- tiap satu lokal sudah pasti memiliki ciri khas sendiri- sendiri. Seperti suku Batak yang kental dengan keterbukaannya, Jawa yang nyaris identik dengan kehalusannya, dan suku Madura yang menjunjung tinggi nilai- nilai harga diri. Maka sekarang pertanyaannya adalah bagaimana jika setiap nilai yang menjadi khas dalam setiap lokal suatu masyarakat tersebut dijaga dan dipelihara, serta dikembangkan dan dan diaplikasikan dalam setiap aspek kehidupan. Setelah itu dipadukan dan sehingga membentuk satu kesatuan yaitu Indonesia, tentunya akan sangat hebat bukan bukan?
Berdasarkan fenomena yang terjadi di negara Indonesia saat ini, sudah barang tentu jika semua warga dari seluruh lapisan masyarakat Indonesia merasa prihatin dan bersedih hati. Begitu juga dengan dunia pendidikan, sekiranya sudah saatnya untuk menjadi pasukan garda depan dalam misi menciptakan negara Indonesia yang besar dan berkarakter.

C.     Analisis
1.      kelebihan pendidikan berbasis kearifan lokal
kelebihan dari metode yang ada dalam pendidikan berbasis kearifan lokal ini adalah berpotensi besar di dalam keikutsertaannya dalam menciptakan bangsa Indonesia yang berkarakter. Sering sekali terdengar sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa, ”bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak meninggalkan sejarah”. Akan tetapi ada satu hal yang harus diingat yaitu, suatu bangsa tidak cukup hanya menjadi besar saja, akan tetapi disamping besar juga harus maju. Sedangkan untuk menjadi bangsa yang maju maka negara tersebut harus memiliki nilai atau karakter. Denan katalain bahwa negara yang maju adalah negara yang berkarakter.
2.      Hambatan
Sesuatu yang menjadi hambatan di dalam pendidikan berbasis kearifan lokal ini adalah telah menjangkitnya westernisasi di seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Hal itu disebabkan karena pesatnya kemajuan peradaban seperti Informasi Teknologi (IT), banyaknya orientalis, oksidentalis dan sebagainya.
3.      Solusi
Solusinya adalah rasa cinta terhadap tanah air yang disertai dengan keteguhan komitmen untuk menjaga dan melestarikan nilai- nilai dan budaya yang terkandung di tanah air tersebut. Dengan begitu seseorang pasti akan termotivasi untuk melakukan suatu hal yang dianggap bisa membawa bangsa inike arah yanglebih baik.

D.    Penutup
Berdasarkan uraian di atas maka dapat dikemukakan bahwa membangun pendidikan di sekolah melalui kearifan lokal mengandung nilai-nilai yang relevan dan berguna bagi pendidikan. Oleh karena itu pendidikan berbasis kearifan lokal dapat dilakukan dengan merevitalisasi budaya lokal. Untuk mewujudkan negara Indonesia yang maju dan bermartabat karena memiliki sebuah nilaitinggi, maka sekolah- sekolah di seluruh tanah air memrogram metobe pendidikan yang berbasis kepada kearifan lokal.

Daftar pustaka

Blum, Lawrence A.. 2001. “Antirasisme, Multikulturalisme, dan Komunitas Antar-Ras” Yogyakarta: Tiara Wacana.

Palmer Parker J. 2009. “Keberanian Mengajar”  Jakarta, Permata Puri Media.

Setiawan Benni. 2008. “Agenda Pendidikan Nasional” Yokyakarta, Ar- Ruz Media Group.

Direktorat Jenderal Kesatuan Bangsa dan Politik Departemen Dalam Negeri. 2007. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 39 Tahun 2007 tentang Pedoman Fasilitasi Organisasi Kemasyarakatan Bidang Kebudayaan, Keraton, dan Lembaga Adat dalam Pelestarian dan Pengembangan Budaya Daerah.


http://tal4mbur4ng.blogspot.com/2010/07/”kearifan-lokal-guna-pemecahan-masalah”.html.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar