Sabtu, 28 April 2012

MULTIPLE INTELEGENCE


MULTIPLE INTELEGENCE
Oleh:
Aris Margo Susanto                           10.0401.0082
Zulia Andriani Kencanasari            10.0401.0002

I.                   PENDAHULUAN
Kecerdasan merupakan kemampuan untuk mengungkapkan situasi baru serta kemampuan untuk belajar dari pengalaman masa lalu seseorang. Selain itu, kecerdasan juga bergantung pada konteks, tugas serta tuntunan yang diajukan oleh kehidupan kita dan bukan bergantung pada nilai IQ, gelar perguruan tinggi maupun reputasi bergengsi.
Penelitian mengenai prediksi nilai IQ membuktikan hal ini, meskipun tes kecerdasan secara konsisten meramalkan kesuksesan disekolah. Sebuah studi yang dilakukan terhadap profesional yang sangat sukses memperlihatkan bahwa sepertiga dari mereka mempunyai IQ yang rendah. Jelas sudah bahwa IQ hanya dapat mengukur sesuatu yang lebih tepat disebut bakat sekolah, sementara kecerdasan sejati mencakup berbagai keterampilan yang jauh lebih luas.
Dalam pembahasan ini, kami akan memaparkan tentang kecerdasan ganda (multiple intellegence) yang sering kita temukan dalam semua segi kehidupan kita.

II.                MULTIPLE INTELLEGENCE DALAM PENDIDIKAN
A.    Teori Multiple Intelligence menurut Psikologi Harvard Howard Gardner
(Fandy’s, 2010), Teori tentang multiple intelligence ini berdasarkan pakar Psikologi Harvard Howard Gardner mengemukakan bahwa pandangan klasik percaya bahwa kecerdasan merupakan kapasitas kesatuan dari penalaran logis, dimana kemampuan abstraksi sangat bernilai.
Gardner mengatakan bahwa, Inteligensi adalah kemampuan untuk memecahkan masalah dalam situasi budaya atau komunitas tertentu, yang terdiri dari tujuh macam inteligensi. Sedangkan, Kecerdasan menurut nya, adalah kemampuan untuk menangkap situasi baru serta kemampuan untuk belajar dari pengalaman masa lalu seseorang. Kecerdasan bergantung pada konteks, tugas serta tuntutan yang diajukan oleh kehidupan kita, dan bukan tergantung pada nilai IQ, gelar perguruan tinggi atau reputasi bergengsi.
Gardner menekankan bahwa inteligensi hanya merupakan dasar ilmiah yang secara potensial berguna. Jenis-jenis inteligensi menurut Gardner :
a.       Kecerdasan spasial, merupakan kecerdasan yang berdasar pada kemampuan menangkap informasi visual atau spasial, mentransformasi serta memodifikasinya, dan membentuk kembali gambaran visual tanpa stimulus fisik yang asli. Individu yang dominan memiliki kecerdasan tersebut cenderung berpikir dalam pola-pola yang berbentuk gambar. Mereka sangat menyukai bentuk-bentuk peta, bagan, gambar, video ataupun film sebagai media yang efektif dalam berbagai kegiatan hidup sehari-hari. (arsitek, fotografer,arti, pilot, insinyur mesin).
b.      Kecerdasan bahasa/linguistik, merupakan kecerdasan dalam penggunaan kata-kata atau bahasa. Meliputi mekanisme yang berkaitan dengan fonologi, sintaksis, semantik dan pragmatik. Mereka yang memiliki kecerdasan tersebut, mempunyai kecakapan tinggi dalam merespon dan belajar dengan suara dan makna dari bahasa yang digunakan. Pada umumnya merupakan ahli yang berbicara di depan publik. Mereka lebih bisa berpikir dalam bentuk kata-kata daripada gambar. (jurnalis, pengacara, pencipta iklan dan penyair).
c.       Kecerdasan logis matematis. Kecerdasan yang mendasarkan diri pada kemampuan penggunaan penalaran, logika dan angka-angka matematis. Pola pikir yang berkembang melalui kecerdasan ini adalah kemampuan konseptual dalam kerangka logika dan angka yang digunakan untuk membuat hubungan antara berbagai informasi, secara bermakna. (ahli matematika, pemrogram komputer, analis keuangan, akuntan, insinyur dan ilmuwan dan menciptakan hipotesis).
d.      Kecerdasan jasmani kinestetik. Kemampuan untuk mengendalikan gerakan tubuh dan memainkan benda-benda secara canggih, merupakan bentuk nyata dari kecerdasan tersebut. Kecenderungannya yaitu dengan mengekspresikan diri melalui gerakan tubuh, individu dapat berinteraksi dengan lingkungan sekelilingnya, mengingat dan memproses setiap informasi yang diterimanya. (koreografer, penari, pemanjat tebing, penari, atlet, pengrajin dan montir).
e.       Kecerdasan musikal. Kecerdasan yang dimiliki oleh orang yang peka nada serta memungkinkan individu menciptakan, mengkomunikasikan dan memahami makna yang dihasilkan oleh suara. Komponen inti dalam pemrosesan informasi meliputi pitch, ritme dan timbre. Terlihat pada komposer, konduktor, teknisi audio, mereka yang kompeten pada musik instrumentalia dan akustik.
f.       Kecerdasan interpersonal, merupakan kecerdasan dalam berhubungan dan memahami orang lain di luar dirinya. Kecerdasan tersebut menuntun individu untuk melihat berbagai fenomena dari sudut pandang orang lain, agar dapat memahami bagaimana mereka melihat dan merasakan. Sehingga terbentuk kemampuan yang bagus dalam mengorganisasikan orang, menjalin kerjasama dengan orang lain ataupun menjaga kesatuan suatu kelompok. Kemampuan tersebut ditunjang dengan bahasa verbal dan non-verbal untuk membuka saluran komunikasi dengan orang lain.
g.      Kecerdasan intrapersonal, tergantung pada proses dasar yang memungkinkan individu untuk mengklasifikasikan dengan tepat perasaan-perasaan mereka, misalnya membedakan sakit dan senang dan bertingkah laku tepat sesuai pembedaan tersebut. Kecerdasan ini memungkinkan individu untuk membangun model mental mereka yang akurat, dan menggambarkan beberapa model untuk membuat keputusan yang baik dalam hidup mereka.(konselor, ahli teologi, dan wirausahawan).
B.     Bukti Teori Kecerdasan
Teori kecerdasan ganda bukanlah teori pertama yang menyatakan ada cara lain agar menjadi cerdas. Teori kecerdasan ganda memasukkan lingkup luas kemampuan manusia kedalam sistem tujuh lapis yang dapat membuat setiap orang menjadi pemenang dalam hidupnya.
Gardner menetapkan syarat khusus yang harus dipenuhi oleh setiap kecerdasan diantaranya adalah :
-          Setiap kecerdasan dapat dilambangkan
-          Setiap kecerdasan mempunyai riwayat perkembangan
-          Setiap kecerdasan rawan terhadap cacat akibat kerusakan atau cidera pada wilayah otak tertentu
-          Setiap kecerdasan mempunyai keadaan akhir berdasarkan nilai budaya
C.    Meluruskan Makna Kecerdasan dalam Multiple Intelligence
(Muh Tahir, 2011), Kecerdasan seseorang tidak dipengaruhi oleh tes-tes formal. Kecerdasan seseorang bersifat dinamis dan tidak statis. Tes yang dilakukan untuk menilai kecerdasan seseorang, praktis hanya menilai pada saat itu, bukan untuk 1 bulan ke depan, atau 20 tahun ke depan. Menurut Gardner, kecerdasan dapat dilihat dari kebiasaan seseorang. Padahal kebiasaan adalah perilaku yang selalu diulang-ulang.
Pada tahun 1970-an, tak sedikit ahli psikologi dunia menyatakan bahwa tes IQ yang diterapkan di dunia pendidikan tidak valid. Dalam bukunya “Frame of Mind”, Gardner mengungkapkan ketidak-valid-an tes IQ.
Alferd Binet, seorang psikolog pembuat tes IQ yang mengandung konsep eugenic (keturunan). Teorinya menegaskan bahwa faktor keturunan sangat mempengaruhi IQ seorang anak. Anak yang lahir dari keturunan bangsawan akan lebih cerdas, sebab bangsawan adalah kelompok masyarakat yang sangat cerdas menurutnya. Permintaan teori ini ternyata didasari fakta sejarah ketika kaum buruh mengancam kekuasaan dengan tajam pada saat itu.
Kecerdasan seseorang dapat dilihat dari berbagai dimensi, tidak hanya kecerdasan verbal (berbahasa) atau kecerdasan logika. Gardner menyatakan bahwa kecerdasan ganda itu memungkinkan ranah kecerdasan itu berkembang luas.
Dengan mengetahui multiple intelligence sedini mungkin, kita dapat menemukan ranah akhir dengan lebih baik, membuat seorang tidak terpaku dengan apa yang didapatkan sekarang dari hasil tes sementara yang mungkin jauh dari target kecerdasan sesungguhnya.
Pada saat multiple intelligence ditarik ke dalam ranah pendidikan khususnya di Indonesia. Paradigma pendidikan akan mengalami banyak koreksi. Ada yang mengatakan Indonesia akan siap dengan teori ini 20 tahun lagi.
D.    Ketika Pendidikan tanpa Multiple Intelligence
(Rohmani, 2012) Kualitas sumber daya manusia Indonesia dewasa ini adalah cerminan dari sistem pendidikan yang saat ini berlaku. Kualitas sumber daya manusia adalah hasil dari penerepan sebuah sistem pendidikan. Bila banyak di antara kita tidak puas dengan sumber daya manusia Indonesia saat ini maka pada saat bersamaan secara tidak langsung kita sedang menggugat sistem  pendidikan nasional.
Kualitas (karakter) sumber daya manusia suatu bangsa tidak ditentukan oleh hakim, polisi dan jaksa. Sumber daya manusia tidak pula ditentukan oleh berapa banyak aturan atau undang yang dibuat oleh negara. Pendidikanlah yang memiliki andil besar dalam menentukan kualitas sumber daya manusia. Pendidikan yang menjadikan sumber daya manusia lebih mampu bersaing dalam era global.
Kemajuan bangsa-bangsa di dunia ini tidak ada yang diperoleh melalui banyaknya undang-undang, kuatnya militer atau berlimpah-ruahnya sumber daya alam. Semua negara-negara maju yang ada saat ini memulainya dari perbaikan sistem pendidikan. Kalau pun ada negara yang maju akibat invasi militer itu tidak akan bertahan lama kecuali ditopang oleh mutu pendidikan.
Menurut penulis ada persoalan krusial yang hingga kini belum teratasi dengan baik, penyebabnya kualitas sumber daya manusia kita belum bisa bersaing dengan negara-negara maju lainnya. Persoalan tersebut adalah pendidikan kita belum mengakomodir konsep  kecerdasan majemuk (multiple Intelligence) dalam dua konteks:  metode pembelajaran dan pendekatan kejiwaan peserta didik.
Dalam metode pembelajaran yang ada saat ini cenderung monoton dan membosankan. Hasilnya, anak didik sulit menerima atau memahami pembelajaran dari guru. Pendidik hanya mengetahui satu pola pembelajaran menerangkan kemudian latihan soal. Pola seperti ini sangat membosankan bagi anak-anak di usia sekolah dasar (SD dan SMP).  Dengan pendekatan kecerdasan majemuk guru dituntut memahami keunggulan kecerdasan setiap anak. Teori kecerdasan majemuk ini menjelaskan bahwa setiap manusia memiliki kecerdasan yang berbeda.
Dengan memahami kecerdasan manusia maka pendidikan bisa melakukan pendekatan pembelajaran sesuai dengan kecerdasan yang dimiliki pesera didik. Pendidik bisa mengemas metode pembelajaran sesuai dengan kecerdasan seorang anak. Bila pendekatan pembelajaran sesuai dengan kecerdasan anak maka peserta didik lebih tertarik mengikuti peroses pembelajaran. Dengan demikian materi pembelajaran akan lebih mudah ditangkap oleh anak didik.
Pendekatan teori kecerdasan majemuk ini bisa digunakan untuk memahami peserta didik. Selama ini pendidikan kita hanya mengakomodir anak-anak yang memiliki kecerdasan logika-matematika. Sehingga proses pembelajaran pun diarahkan untuk mengasah kecerdasan logika-matematika ini. Anak didik yang tidak unggul dalam kecerdasan logika-matematika akan tersingkir dari dunia pendidikan kita. Anak-anak tersebut tidak memiliki tempat dalam pendidikan kita. Ironisnya, mereka mendapat stempel anak gagal.
Padahal, kecerdasan logika-matematika bukan faktor tunggal dalam menentukan kesuksesan seseorang. Seseorang akan sukses bila ia mampu mengoptimalkan kecerdasan spesifik yang dimilikinya. Kita bisa belajar dari kesuksesan ratu talk show Oprah Winfrey. Ia berhasil menjadi seorang presenter terkaya karena mengasah kecerdasan linguistik yang ia miliki.
Sudah saatnya pendidikan kita mengakomodir kecerdasan majemuk. Pendidikan (sekolah) jangan lagi mematikan kecerdasan tertentu yang dimiliki seorang anak. Pendidikan kita harus diarahkan bisa mengoptimalkan kecerdasan yang dimiliki seorang peserta didik. Penulis yakin bila metode ini diterapkan maka anak-anak didik akan tumbuh sesuai dengan potensinya. Sekolah bukan lagi tempat mematikan potensi seorang anak.
E.     Pendekatan Multiple Intelligence dalam Pembelajaran
(Atep T Hadiwa, 2008) Untuk menunjang keberhasilan pembelajaran, pada dasarnya adalah menentukan pendekatan pembelajaran yang sejalan dengan kurikulum tersebut. Membahas pendekatan pembelajaran, banyak sekali jenis pendekatan yang dapat diterapkan. Di antaranya pendekatan pembelajaran yang dikembangkan dari suatu teori yang dikenal dengan teori Multiple Intelligence. Teori tersebut digunakan sebagai pendekatan pembelajaran, karena di dalamnya membicarakan tentang keberagaman yang bertautan dengan kompetensi peserta didik.
Pada dasarnya setiap kurikulum menitikberatkan pada pencapaian suatu kompetensi tertentu peserta didik. Pendekatan Multiple Intelligence pun memandang bahwa seseorang atau manusia memiliki beberapa potensi kecerdasan. Salah satu dari kecerdasan setiap peserta didik itulah yang harus dikembangkan, sehingga pada akhirnya menjadi suatu kompetensi yang sangat dominan penguasaanya.
Jika kita tautkan ketujuh kecerdasan yang dimiliki manusia dalam pembelajaran, maka dapat disimpulkan bahwa “Sebaiknya Multiple Intelligence (kecerdasan ganda) digunakan dan diterapkan sebagai pendekatan pelaksanaan kegiatan pembelajaran.” Setiap manusia (peserta didik) tentu akan memiliki potensi yang sesuai dengan salah satu kecerdasan di atas. Dengan demikian, diharapkan salah satu potensi kompetensi dari peserta didik dapat muncul dan dapat dikembangkan.
Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam Multiple Intelligence adalah adanya tanggung jawab lembaga-lembaga pendidikan, dan kecerdikan seorang guru dalam memerhatikan bakat masing-masing siswa (peserta didik). Di dalam maupun di luar sekolah, setiap siswa harus berhasil menemukan paling tidak satu wilayah kemampuan yang sesuai dengan potensi kecerdasannya. Jika hal itu berhasil ditemukan oleh siswa dengan bimbingan guru, maka akan menimbulkan kegembiraan dalam proses pembelajaran, bahkan akan membangkitkan ketekunan dalam upaya-upaya penguasaan disiplin keilmuan tertentu.
Penerapkan pendekatan Multiple Intelligence dalam pembelajaran, harus memerhatikan beberapa langkah, meliputi:
1.      Mengidentifikasi elemen-elemen Multiple Intelligence dalam program kurikuler dan ekstrakurikuler.
2.      Meninjau kembali sistem teknologi dan program piranti lunak untuk melihat kecerdasan-kecerdasan apa yang terabaikan.
3.      Para guru merenungkan kemampuan peserta didik, kemudian memutuskan untuk secara sukarela bekerjasama dengan rekan-rekan yang lain.
4.      Proses pembelajaran dengan tanggung jawab tertentu, bisa dipilih sebagai metode pembelajaran.
5.      Diskusi dengan orang tua siswa dan anggota masyarakat sehingga dapat membuka kesempatan-kesempatan magang bagi para siswa.
Di samping langkah-langkah di atas, sebagai upaya untuk memadukan pendekatan Multiple Intelligence dalam pembelajaran, perlu juga memperhatikan hal-hal berikut:
1.      Persepsi tentang siswa harus diubah
Sebaiknya para pendidik memberikan perhatian kepada berbagai macam cara yang dilakukan siswa untuk memecahkan masalah-masalah mereka dan mengaplikasikan apa yang telah mereka pelajari. Kita harus menerima bahwa siswa memiliki profil-profil kognitif dengan tingkat kemampuan yang berbeda-beda. Guru harus menyediakan kesempatan-kesempatan belajar yang kaya, mempertajam kemampuan-kemampuan observasi siswa, mengumpulkan informasi tentang bakat dan kegemaran siswa, serta mempelajari kecerdasan-kecerdasan yang tidak biasa.
2.      Guru membutuhkan dukungan dan waktu untuk memperluas daftar pengajaran mereka.
Jika proses pembelajaran ingin mencapai tujuan bahwa siswa harus memiliki pengetahuan, nilai dan sikap, serta keterampilan yang seimbang, maka jam belajar yang selama ini hanya cukup untuk menguasai pengetahuan saja harus diubah dengan memperluas jam belajar. Hal ini perlu dilakukan untuk:
a.       Memberi dukungan dan melakukan praktek.
b.      Meminta guru tertentu yang memiliki kemampuan tinggi dalam sebuah kecerdasan untuk memberikan pelatihan.
c.       Mengintegrasikan para spesialis yang memiliki keahlian dalam bidang tertentu.
d.      Mengunjungi lokasi-lokasi lain sebagai bahan perbandingan proses pembelajaran.
3.      Pendekatan Multiple Intelligence dan pembelajaran
Kurikulum pada dasarnya berfokus pada pengetahuan yang mendalam dan pengembangan kemampuan. Dalam hal ini, pembelajaran tidak harus menekankan pengajaran melalui kecerdasan, tetapi yang harus mendapat penekanan adalah bahwa pembelajaran itu untuk kecerdasan atau penguasaan kompetensi tertentu sesuai dengan minat dan bakat siswa.
4.      Diperlukan pendekatan baru terhadap proses penilaian
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam aktivitas penilaian, yaitu:
a.       Bagaimana menilai kecerdasan siswa;
b.      Bagaimana meningkatkan penilaian secara umum dalam hal kognitif, afektif, dan psikomotorik;
c.       Bagaimana melibatkan siswa dalam proses penilaian.
5.      Praktik profesional menuju ke arah perkembangan
Tingkat profesionalisme para pendidik perlu dimiliki setiap guru, sehingga tantangan yang dihadapi terutama dalam menentukan model program yang akan dilakukan di kelas, tepat dan sesuai dengan kompetensi siswa.

III.             KESIMPULAN
Dari uraian diatas maka dapat kita pahami bahwa kecerdasan adalah merupakan kemampuan untuk mengungkapkan situasi baru serta kemampuan untuk belajar dari pengalaman masa lalu seseorang. Disamping itu, setiap manusia memiliki berbagai kecerdasan. Yang mana Gardner memiliki teori tentang multiple intellegence yang kemudian membaginya menjadi 7 macam kecerdasan yang ada dalam diri manusia.
Karena pada dasarnya manusia itu sudah memiliki 7 macam kecerdasan tersebut kemudian diimplementasikan kedalam proses pembelajaran yang ada dalam dunia pendidikan. Tanpa adanya multiple intellegence, sumber daya manusia tidak akan bisa memanfaatkan berbagai kecerdasan yang telah dimilikinya untuk dapat dikembangkan agar potensi-potensi itu mampu menciptakan sesuatu yang baru dalam menjawab tantangan zaman yang semakin mendunia.

DAFTAR PUSTAKA
Rohmani, MA. (2012). Ketika Pendidikan tanpa Multiple Intelligences. [Online]. Tersedia:http://www.webrohmani.com/index.php?option=com_content&view=article&id=135:ketika-pendidikan-tanpa-multiple-intelligences&catid=36:opini&Itemid=60. [18 Maret 2012]
Atep T Hadiwa. (2008). Pendekatan Multiple Intelligence dalam Pembelajaran. [Online]. Tersedia:http://atepjs.wordpress.com/2008/09/04/pendekatan-multiple-intelligence-dalam-pembelajaran/. [18 Maret 2012]



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar