Sabtu, 28 April 2012

PENDIDIKAN BERBASIS PEMBANGUNAN KARAKTER


MAKALAH
PENDIDIKAN BERBASIS PEMBANGUNAN KARAKTER
Disusun Oleh:

Datin Zulaekhah            10.0401.0044
Widya Dwi Kurnia        10.0401.0047
A.                 PENDAHULUAN
Karakter merupakan hal yang sangat penting dan mendasar. Orang-orang yang berkarakter kuat dan baik secara individual maupun sosial ialah mereka yang memiliki akhlak, moral, dan budi pekerti yang baik. Mengingat begiyu pentingnya karakter, maka institusi pendidikan memiliki tanggung jawab untuk menanamkannya melalui proses pembelajaran. Karakter seseorang yang positif atau mulia akan mengangkat status derajat yang tinggi dan mulia bagi dirinya. Kemuliaan seseorang terletak pada karakternya.
Karakter seseorang berkembang berdasarkan potensi yang dibawa sejak lahir atau yang dikenal sebagai karakter dasar yang bersifat biologis. Karakter dapat dibentuk melalui pendidikan, karena pendidikan merupakan alat yang paling efektif untuk menyadarkan individu dalam jati diri kemanusiannya.
B.                 PENTINGNYA PENDIDIKAN KARAKTER
1.      Makna Pendidikan
Pendidikan merupakan bagian penting dari kehidupan manusia yang tidak pernah bisa ditinggalkan. Ada dua asumsi mengenai pendidikan. Pertama, pendidikan dianggap sebagai sebuah proses yang terjadi secara tidak disengaja atau berjalan secara ilmiah. Dalam hal ini, pendidikan bukanlah proses yang diorganisasi secara teratur, terencana, dan menggunakan metode-metode yang dipelajari serta berdasarkan aturan-aturan yang telah disepakati mekanisme penyelenggaraannya oleh suatu komunitas masyarakat (negara) melainkan lebih merupakan bagian dari kehidupan yang memang telah berjalan sejak manusia itu ada. Kedua, pendidikan dianggap sebagai proses yang terjadi secara sengaja, direncanakan, didesain, dan diorganisasi. Kata pendidikan berasal dari bahasa inggris yaitu education, berasal dari bahasa latin yaitu educare, yang artinya melatih atau menjinakkan (seperti dalam konteks manusia melatih hewan-hewan liar menjadi jinak), juga berarti menyuburkan (membuat tanah menjadi baik yang siap menjadi persemaian tumbuhan yang berkembang baik karena tanahnya digarap dan diolah). (Fatchul, 2011: 287)
2.      Pendidikan Karakter
Karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat. (Suyanto, 2009)
Pendidikan Karakter adalah pemberian pandangan mengenai berbagai jenis nilai hidup, seperti kejujuran, kecerdasan, kepedulian, tanggung jawab, kebenaran, keindahan, kebaikan, dan keimanan. Dengan demikian, pendidikan berbasis karakter dapat mengintegrasikan informasi yang diperolehnya selama dalam pendidikan untuk dijadikan pandangan hidup yang berguna bagi upaya penanggulangan persoalan hidupnya. (Rizkyana, 2010)
Pendidikan berbasis karakter akan menunjukkan jati dirinya sebagai manusia yang sadar diri sebagai makhluk, manusia, warga negara, dan pria atau wanita. Kesadaran itu dijadikan ukuran martabat dirinya sehingga berpikir obyektif, terbuka, dan kritis, serta memiliki harga diri yang tidak mudah memperjualbelikan. Sosok dirinya tampak memiliki integritas, kejujuran, kreativitas, dan perbuatannya menunjukkan produktivitas.
Sebab-sebab diadakannya pendidikan karakter:
a.       Kemiskinan dan keterbelakangan, suatu kondisi yang menyebabkan negara kita kian tertinggal jauh dengan bangsa lain, yang membuat generasi kita menganggur dan kurang pendidikan. Kurangnya pendidikan dan kemiskinan berakibat pada tidak munculnya tenaga produktif dan tenaga kreatif yang membuat generasi memproduksi dan berkreasi. Generasi kita hanya bisa membeli, meniru, dan pasrah pada keadaan.
b.      Dominasi budaya membodohi akibat pengaruh tayangan media (terutama budaya tonton melalui TV) yang pengaruhnya pada masyarakat cukup luar biasa. Budaya tonton ini membuat orang mudah terpengaruh pada gebyar kesemarakan yang dicitrakan media yang membuat para penonton (khalayak masyarakat) hanya bisa pasif dalam kebudayaan, kebiasaan yang membentuk karakter pasif, bisu, dan mematikan naluri kreativitas serta kemandirian berpikir.
c.       Adanya korupsi yang meluas. Korupsi jelas merupakan gejala paling nyata dari gagalnya pembangunan karakter bangsa, merupakan produk dari hubungan sosial yang kontradiktif. Korupsi membuat bangsa tidak maju, menyebabkan rakyat tetap miskin, dan sekaligus menunjukkan karakter parasit dan birokrasi di Indonesia. Birokrasi parasit adalah cermin bangsa yang karakternya rusak, yang kalau dibiarkan akan membuat bangsa hancur, bisa hancur secara cepat atau perlahan-lahan.
d.      Kerusakan lingkungan alam akibat gejala alam maupun akibat ulah manusia yang belakangan menjadi masalah serius di Indonesia. Kerusakan alam adalah fenomena yang membutuhkan perhatian dalam kaitannya pembangunan karakter manusia karena kerusakan alam disebabkan karakter yang serakah, yang tak menghormati lingkungan, dan mungkin juga dibiasakan oleh karakter manusia yang terbentuk. (Fatchul, 2011: 325)

3.      Konsep Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter merupakan bagian esensial yang menjadi tugas sekolah, tetapi selama ini kurang perhatian. Akibat minimnya perhatian terhadap pendidikan karakter dalam ranah sekolah. Sekolah tidak hanya berkewajiban meningkatkan pencapaian akademis, tetapi jiga bertanggung jawab dalam membentuk karakter peserta didik. Pendidikan karakter dipahami sebagai upaya penanaman kecerdasan dalam berpikir, penghayatan dalam bentuk sikap, dan pengalaman dalam bentuk perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai luhur. Penanaman pendidikan karakter tidak bisa hanya sekedar menstransfer ilmu pengetahuan atau melatih suatu keterampilan tertentu. Penanaman pendidikan perlu proses, contoh teladan, dan pembiasaan atau pembudayaan dalam lingkungan peserta didik dalam lingkungan sekolah, keluarga, lingkungan masyarakat, maupun lingkungan media masa.
Pendidikan karakter dimaknai sebagai pendidikan yang mengembangkan nilai-nilai karakter peserta didik. Pendidikan karakter memiliki tiga fungsi utama, yaitu:
a.       Fungsi pembentukan dan pengembangan potensi
b.      Fungsi perbaikan dan penguatan
c.       Fungsi penyaring
Dengan demikian, pendidikan karakter adalah segala upaya yang dilakukan guru, yang mampu mempengaruhi karakter peserta didik. Proses pendidikan karakter ataupun pendidikan akhlak dipandang sebagai usaha sadar dan terencana, bukan usaha yang sifatnya terjadi secara kebetulan. Atas dasar ini, pendidikan karakter adalah usaha yang sungguh-sungguh untuk memahami, memupuk nilai-nilai etika. Baik untuk diri sendiri maupun untuk semua warga masyarakat. Pendidikan karakter dari sisi substansi dan tujuannya sama dengan pendidikan budi pekerti, sebagai sarana untuk mengadakan perubahan secar mendasar.
Pengertian budi pekerti secara hakiki adalah perilaku. Sementara itu, menurut draf kurikulum berbasis kompetensi (2001), budi pekerti berisi nilai-nilai perilaku manusia yang akan diukur menurut kebaikan dan keburukannya melalui norma agama, norma huku, tata krama dan sopan santun, dan norma budaya dan adat isti adat masyarakat. Istilah karakter juga memiliki kedekatan dan titik singgung dengan etika. Etika merupakan tentang tingkah laku, sedangkan moral lebih mengacu pada aturan normatif yang menjadi pegangan seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah laku. 
Pendidikan adalah pendidikan budi pekerti dan yang intinya merupakan program pengajaran di sekolah yang bertujuan mengembangkan watak dan tabiat siswa dengan cara menghayati nilai-nilai dan keyakinan masyarakat sebagai kekuatan moral dalam hidupnya melalui kejujuran, dapat dipercaya, disiplin, dan kerja sama yang menekankan ranah afektif tanpa meninggalkan ranah kognitif, dan ranah skill. Sedangkan budi pekerti adalah watak atau tabiat khusus seseorang untuk berbuat sopan dan menghargai pihak lain yang tercermin dalam perilaku dan kehidupannya. (Zubaedi, 2011: 14)

4.      Tahap-Tahapan Pendidikan Karakter
a.       Muatabah
Muatabah berasal dari kata taba yang berarti penyesalan. Dari kitab Al-Ghazali muatabah dapat diartikan meninggalkan dosa-dosa seketika dan bertekad untuk tidak melakukan lagi atau dari maksiat menuju taat.(Zubaedi, 2011: 120)
b.      Muqorobah
Secara harafiah muqorobah adalah awas mengawasi.
Muqorobah adalah suatu keadaan seseorang yang meyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah melihat dan mengawasi manusia. (Zubaedi, 2011: 121)
Sikap-sikap positif muqorobah
1)       Haya’(sifat malu)
Sifat malu adalah suatu tindakan batin. Hakikat malu bukn pada tindakan. Tingkah laku sesungguhnya hanya merupakan ekspresi dari malu itu sendiri. Oleh karena itu, malu merupakan sejenis perasaan.
 Tiga macam malu dalam pandangan Islam:
(a)    Malu terhadap manusia
(b)   Malu terhadap diri sendiri
(c)    Malu kepada Allah
2)       Haibah(hormat)
Hormat adalah suatu perasaan seseorang yang mengagungkan Allah atasdasar hormat, dan tidak berani kepada Allah karena takut.
3)       Ta’zim(memuliakan)
Memuliakan Allah adalah suatu perasaan di mana seseorang menempatkan Allah pada posisi yang paling atas di atas segala-galanya.
4)      Mujahadah
Mujahadah dari segi bahasa berasal dari kata jahada atau ijtihada. Jahada yang artinya berusaha keras, sungguh-sungguh atau perjuangan. Mujahadah adalah pengendalian atau kontrol terhadap nafsu dari hal-hal yang menggiurkan, dan upaya melawan keinginan hawa nafsu ini dilaksanakan pada setiap saat. (Zubaedi, 2011: 123)
5)      Musyahadah
Musyahadah dapat dikatakan tindak lanjut dari ajaran ikhsan yang mengajarkan tentang konsep ibadah yang sesunguhnya. (Zubaedi, 2011: 124)
6)      Mukasyafah
      Istilah mukasyafah secara bahasa mempunyai arti terbuka tirai. Mukasyafah adalah terbukanya tirai-tirai yang gaib secara menyeluruh. (Zubaedi, 2011: 125)
7)      Mahabah
      Kata mahabah secara harfiah dapat diartikan sebagai cinta. Secara teori, cinta sesungguhnya adalah sebuah perilaku emosional yang jauh sekali hubungannya dengan perilaku rasional. Mahabah adalah kecenderungan terhadap sesuatu. Cinta pada hakikatnya berangkat dari ketulusan, keikhlasan, dan kesucian yang menghasilkan sikap al-uns(rasa suka), wushul(dampak), dan as-syauq(rindu).   (Zubaedi, 2011: 127)
8)      Ma’rifat
      Kata ma’rifat dari segi bahasa mempunyai arti pengetahuan. Secara islilah, ma’rifat mempunyai arti suatu pengetahuan yang didasarkan atas suatu keyakinan yang penuh terhadap sesuatu hingga hilanglah suatu keraguan-keraguan. Al-Ghazali mengartikan ma’rifat sebagai pengetahuan yang tidak menerima keraguan lain. Dengan demikian, maka di dalam ma’rifat sesungguhnya tidak ada sedikitpun keraguan. Yang ada dalam ma’rifat hanyalah satu keyakinan. (Zubaedi, 2011: 128)
5.      Tujuan Pendidikan Karakter
        Tujuan pendidikan karakter adalah berupa tanggapan individu, sosial, kultur yang melingkupinya, untuk dapat menempa diri menjadi sempurna sehingga potensi-potensi yang ada di dalam dirinya berkembang secara penuh. Pentingnya tujuan pendidikan karakter sebagai pembentuk pedoman perilau, dengan cara menyediakan ruang bagi figur keteladanan bagi anak didik dan menciptakan sebuah lingkungan yang kondusif bagi proses pertumbuhan berupa kenyamanan, keamanan yang menbantu suasana pengembangan diri satu sama lain. (Doni, 2010: 134)    
6.      Pendekatan Pembelajaran Pendidikan Karakter
        Keberhasilan proses pendidikan karakter antara lain dipengaruhi oleh ketetapan seorang guru dalam memilih dan mengaplikasikan pendekatan dalam penanaman nilai-nilai karakter. Efektifitas proses pendidikan karakter dipengaruhi oleh ketetapan pendekatan yang dipilih guru dalam mengajarkan materi. Ada delapan pendekatan yang dapat digunakan dalam mengajarkan pendidikan karakter, yaitu; evocation, inculcation, moral reasoning, value clarification, value analysis, moral awareness, commitment approach, dan union approach. (Zubaedi, 2011: 206)
        Ada dua tujuan utama pendidikan moral menurut pendekatan ini: pertama, membantu peserta didik untuk menggunakan kemampuan berpikir logis dan penemuan ilmiah dalam menganalisis masalah-masalah sosial, yang berhubungan dengan nilai moral tertentu. Kedua, membantu peserta didik untuk menggunakan proses berpikir rasional dan analitik, dalam menghubung-hubungkan dan merumuskan konsep tentang nilai-nilai. (Zubaedi, 2011: 210)
7.      Strategi dan Metode Pembelajaran Pendidikan Karakter
        Proses pendidikan karakter kepada peserta didik pada saat ini lebih tepat menggunakan model pembelajaran yang didasarkan pada interaksi sosial dan transaksi. Model pembelajaran interaksi sosial ini dilaksanakan dengan berlandaskan prinsip-prinsip: (Zubaedi, 2011: 230)
a)      Melibatkan peserta didik secara aktif dalam belajar
b)      Mendasarkan pada perbedaan individu
c)      Mengaitkan teori dengan praktik
d)      Mengembangkan komunikasi dan kerja sama dalam belajar
e)      Meningkatkan keberanian peserta didik dalam mengambil resiko dan belajar dari kesalahan
f)        Meningkatkan pembelajaran sambil berbuat dan bermain
g)      Menyesuaikan pelajaran dengan taraf perkembangan kognitif yang masih pada taraf operasi kongkrit
C.                 KELEBIHAN DAN KEKURANGAN PENDIDIKAN BERBASIS KARAKTER Di INDONESIA
1.      Kelebihan
        Pendidikan karakter dapat meningkatkan motivasi siswa dalam meraih prestasi akademik pada sekolah-sekolah yang menerapkan pendidikan karakter dan menunjukkan penurunan perilaku negatif siswa.
2.      Kelemahan
        Pendidikan karakter di Indonesia masih belum semuanya berhasil. Masih perlu peningkatan yang lebih baik demi tercapainya salah satu tujuan pendidikan nasional yaitu pembentukan karakter.
D.     KESIMPULAN
              Pembentukan karakter merupakan salah satu tujuan dari pendidikan nasional. Pendidikan karakter adalah sebuah sistem yang menanamkan nilai-nilai karakter kepada anak usia sekolah yang dimana nilai-nilai tersebut memiliki komponen nilai-nilai pengetahuan, kesadaran individu, tekad, serta adanya kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, dan sesama manusia. Dengan pendidikan karakter, diharapkan agar karakter peserta didik dapat terbentuk.


                       





















DAFTAR PUSTAKA

Zubaedi. 2011. Desain Pendidikan Karakter. Jakarta: Kenana Prenada Media       Group.
A, Doni Koesoema. 2010. Pendidikan Karakter. Jakarta: Grasindo.
Mu’in, Fatchul. 2011. Pendidikan Karakter. Jogjakarta: Ar-ruzz Media.
Putri, Rizkyana Z. (2010). Pendidikan Berbasis Pembangunan Karakter. [online]. Tersedia: http://putrizkyana.blogspot.com. [15 Maret 2012].
Suyanto. (2009). Urgensi Pendidikan Karakter. [online]. Tersedia: http://Mandikdasmen.kemdiknas.go.id/web/pages/urgensi.html. [15 Maret 2012].


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar